Jumat, 12 Oktober 2012

khotbah idul adha

met pagi gan.... kali ini muttaqin akan memberikan teks khutbah idhul adha moga bermanfaat, amien
Khutbah Idul Adha 1430 H.
1
H. Muhammad Nuruddin, Lc., MSI.
2
السلام عليكم ورحمة الله وبرآاته
الحمد لله الذى جعل اليوم عيدا لعباده المؤمنين، وشرع الذبح والتضحية تقربا إليه
للمخلصين، أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شریك له و أشهد أن محمدا عبده ورسوله
أطوع الخلق لرب العالمين، أللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى أله وأصحابه
أجمعين
. أما بعد ..........فيا عباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال الله
تعالى
: یَاأَیُّهَا الَّذِینَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
ه الا الله �� يلا، لا ال �� رة وأص �� بحان الله بك �� را وس �� د لله آثي �� را والحم �� ألله أآبر آبي ،
x ألله أآبر 9
ر �� ه الا الله الله أآب �� ده لا ال �� زاب وح �� زم الأح �� ده وه �� ز جن �� وحده صدق وعده ونصر عبده وأع
الله أآبر ولله الحمد
.........
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
.
Di pagi yang penuh berkah ini, tidak ada ucapan dan perbuatan yang pantas kita
lakukan selain rasa syukur kita kepada Allah SWT. Dengan rahmat serta inayah yang telah
diberikan-Nya, kita dapat bertemu dalam suasana
silaturrahim dan kegembiraan pada salah
satu hari raya ummat Islam, Idul Adha atau Idul Qurban. Kita berharap agar Allah SWT
senantiasa memberikan kasih dan sayang-Nya agar kita dapat selalu menjalankan apa yang
menjadi perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya dengan ringan serta penuh dengan
keikhlasan.
Selanjutnya kita berdo’a semoga shalawat dan salam tetap terlimpah kepada junjungan kita,
Rasulullah Muhammad SAW., di mana dengan kegigihan perjuangan beliau, dengan
pengorbanan harta, tenaga dan jiwa, cahaya Islam dapat menjadi
Rahmatan lil ‘Alamin.
Saat ini, seluruh ummat Islam di setiap penggal bumi Allah SWT ini, sama-sama
bergembira menyambut kedatangan Idul Qurban, hari raya pendekatan diri kepada Allah,
Tuhan seru sekalian alam. Tua-muda, besar-kecil, laki-laki perempuan, semuanya
mengumandangkan kalimat-kalimat suci: takbir, tahmid dan tahlil dengan penuh semangat
dan kekhusu’an. Mengikrarkan dan mengakui ke-Maha Besaran Allah, segala puji hanya
pantas dipersembahkan kepada Allah dan tidak ada tuhan yang patut disembah melainkan
hanya Allah……
1
Disampaikan dalam khutbah Idul Adha 1430 H di Masjid Namira Kota Bontang.
2
Hakim Pengadilan Agama Bontang
2
Jama’ah sidang Idul Adha
Rahimakumullah
.
Bagi seorang muslim, Idul Adha atau yang juga dinamakan
Idul Qurban, merupakan
salah satu anugerah terbesar dan terpenting yang Allah SWT berikan kepadanya. Ada
beberapa alasan mendasar yang menunjukkan betapa penting momentum Idul Qurban bagi
peningkatan kualitas diri seorang muslim, tidak hanya dalam hubungan dirinya kepada Allah
tetapi juga berkait dengan hubungannya pada sesamanya. Bahkan lebih dari itu, Idul Adha
juga menunjukkan betapa mulianya makhluk yang bernama manusia di dunia dan di sisi
Allah, Dzat yang menciptakannya. Alasan-alasan itu di antaranya adalah:
Pertama
: Sebagaimana namanya, Idul Qurban berarti hari raya pendekatan diri, yaitu upaya
mendekatkan diri kita sebagai pribadi muslim, kepada Sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Hari
raya ini menjadi landasan awal bagi ummat Islam, agar dapat lebih taat menjalankan syari’at
Allah, yang merupakan sumber kebahagiaan dan kedamaian ummat manusia di muka bumi
ini. Pada hari ini pula, kita mendapat kesempatan untuk merenung dan melakukan introspeksi
diri, apakah kita sudah dapat menjalankan perintah-perintah Allah secara
kaffah?, Adakah
Allah SWT dan RasulNya, Muhammad SAW, menjadi yang paling kita cintai di dalam setiap
langkah dan nafas kita di dunia ini? Sudahkah cinta dan ketaatan kita Pada Allah SWT
melebihi kecintaan kita pada harta, keluarga dan segala yang berwujud materi milik kita?.
Pertanyaan-pertanyaan itu haruslah kita jawab sebagai pertanggung-jawaban kita sebagai
hamba kepada Allah Ta'ala Sang Maha Pencipta.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Dalam kisah yang diabadikan Allah mengenai peristiwa pengorbanan yang dilakukan
oleh Nabi Ibrahim AS dan puteranya Nabi Ismail AS, pertanyaan-pertanyaan yang terlontar di
atas terjawab dengan sangat indah dan penuh makna. Pada kisah Itu Allah menceritakan:
تِ �� الَ یَاأَبَ �� رَى قَ �� اذَا تَ �� انْظُرْ مَ �� كَ فَ �� فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ یَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُ
اهُ �� افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ ال صَّابِرِینَ
( 102 )فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِي نِ( 103 )وَنَادَیْنَ
بَلا ءُ �� وَ الْ �� ذَا لَهُ �� سِنِي نَ
( 105 )إِنَّ هَ �� زِي الْمُحْ �� ذَلِكَ نَجْ �� ا آَ �� ا إِنَّ �� دَّقْتَ الرُّؤْیَ �� دْ صَ �� اإِبْرَاهِيمُ( 104 )قَ �� أَنْ یَ
الْمُبِينُ
( 106 )وَفَدَیْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ( 107 )وَتَرَآْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِینَ
3
Artinya:
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama
Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!”Ia (Ismail) menjawab: “Wahai
Ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (102). Tatkala keduanya telah berserah diri
dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya).(103).
Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,(104). Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi
itu, Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik.(105). Sesungguhnya ini benar-benar satu ujian yang nyata.(106). Dan Kami tebus anak
itu dengan sembelihan yang besar.(107). Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik)
di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
Ayat-ayat Allah ini memberi gambaran yang jelas bagi kita, betapa besar rasa cinta
dan ketaatan yang dimiliki oleh dua hamba dan rasul Allah, Ibrahim AS dan Ismail AS
puteranya, pada Allah SWT. Mereka yakin bahwa seluruh perintah Allah adalah kebenaran
yang harus dilakukan. Mereka yakin bahwa Allah pasti menghendaki kebaikan bagi para
hamba-Nya. Maka meski pada lahirnya, perintah menyembelih itu adalah sesuatu yang
mungkin kejam menurut akal dan logika, mereka tetap melaksanakan perintah itu, karena
mereka sadar dan beriman bahwa pada hakikatnya perintah itu adalah bertujuan mulia.
Jika pada peristiwa besar dan bersejarah itu, kita hanya melihat dari sudut pandang
manusia semata, maka boleh jadi kita menilai Nabi Ibrahim AS– atau bahkan lebih jauh lagi
perintah Allah itu sendiri – adalah tidak manusiawi dan tidak berperasaan. Atau kita katakan
Nabi Ibrahim tidak mempunyai rasa cinta kepada putranya Nabi Ismail. Tetapi benarkah
demikian?! Tentu saja pendapat itu keliru. Nabi Ibrahim sangat mencintai Nabi Ismail.
Terlebih beliau mendapat karunia anak, lama setelah menunggu bertahun-tahun. Hal itu
ditambah dengan ketaatan dan kesalehan Ismail AS pada Allah dan dua orang tuanya. Maka
siapakah yang tidak cinta pada anak yang demikian?. Apalagi secara fitrah, orang tua pasti
akan mencintai anaknya. orangtua beribadah kepada Allah dengan cara mendidik dan
mengasuh anaknya dengan tulus dan penuh cinta. Bagi seorang ibu sangat besar dan berat
4
perjuangan mengandung dan melahirkan. Semua sirna kala ibu mendengar tangis pertama
anaknya. Ia rawat anak itu sepenuh perasaan. Suatu ketika sang anak demam, ibunya-lah
yang merasakan penderitaan lebih dalam. Merintih anak itu kesakitan tengah malam, ibunya
terbangun.. Dalam doanya, sekiranya Allah mengijinkan, sang ibu ingin ia tanggungkan
demam itu, agar anaknya dapat terlelap bahagia. Keikhlasan seorang ayahpun tidak kurang
dari pada cinta ibu. Ketika anaknya lahir, sudah terpikir dalam batinnya bagaimana
kubahagiakan anakku, jadi siapakah anakku esok, bagaimanakah anakku jika aku mati
sekarang, bagaimanakah nasibnya jika hidupnya susah karenaku. Pikiran-pikiran itu
membuatnya pergi pagi pulang malam, bekerja untuk kebahagiaan anaknya, tak sempat ia
berpikir untuk kebahagiaannya sendiri. Bahkan, tak pernah ia berpikir sekalipun akan balasan
anaknya atas perjuangannya itu. Ayah dan ibu berikan bekal agar anaknya mendapatkan
kemuliaan di dunia dan akhirat. Mereka mengerti, Allah mencintai orangtua yang dapat
menunaikan amanat dan mengembalikannya kepada Allah, bahkan ketika anak-anak mereka
nakal, bandel, sering membuat susah atau bahkan durhaka sekalipun, cinta yang ada di hati
orang tua tetaplah ada dan tidak sirna.
Cinta kepada anak adalah mulia. Cinta anak pada orang tuanya, tidak kurang
mulianya. Cinta kepada harta dan materi lainnya pun tidaklah tercela. Tetapi cinta kita kepada
Allah SWT dan rasul-Nya adalah segala-galanya. Nabi Ibrahim mencintai Nabi Ismail dan
Nabi Ismail pun mencintai ayahnya Nabi Ibrahim. Tetapi ketaatan dan kecintaan mereka pada
Allah jauh melebihi cinta-cinta di antara mereka. Apa yang menjadi perintah Allah haruslah
dijalankan tanpa ada keraguan. Karena dibalik semua itu pastilah ada tujuan dan hikmah, di
mana acapkali hikmah itu tidak dapat kita pahami. Bukan pula berarti hikmah itu tidak ada,
hanya akal kita yang sangat terbatas untuk menguaknya. Kita kemudian dapat menyadari dan
kemudian bersikap
tawadhu' bahwa Ilmu Allah Maha Luas dan apa yang dianugerahkan
kepada kita sangatlah terbatas. Allah SWT berfirman:
هِ �� ا بِمِثْلِ �� وْ جِئْنَ �� ي وَلَ �� اتُ رَبِّ �� دَ آَلِمَ �� لَ أَنْ تَنْفَ �� رُ قَبْ �� دَ الْبَحْ �� ي لَنَفِ �� اتِ رَبِّ �� قُلْ لَوْ آَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَ
(
مَدَدًا(سورة الكهف: 109
5
Artinya:
Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat
Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku,
meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).
(QS. Al-Kahfi: 109).
Pada masa sahabat, ketaatan pada perintah Allah terlukis dengan sangat indah pada
peristiwa ketika Amirul Mu’minin Khalifah Umar bin Khattab akan mencium Hajar Aswad saat
menunaikan ibadah haji. Beliau berkata di depan batu hitam itu sebelum menciumnya:
Artinya:
Hai batu, Sesungguhnya aku sadar betul, engkau hanyalah sebuah batu yang tidak
bisa memberi manfaat ataupun madzarat, Seandainya aku tidak melihat Rasulullah
menciummu (dan menjadikan hal itu sebagai amalan sunnah dalam haji), niscaya aku tidak
akan pernah menciummu selamanya!.
Kaum Muslimin
Rahimakumullah
Kedua
: Ibadah Qurban mengajarkan umat Islam untuk selalu mengembangkan ukhuwah
Islam antar sesama muslim. Umat Islam belajar peka terhadap keadaan saudaranya yang
mungkin secara ekonomi mendapat cobaan dari Allah. Terlebih lagi beberapa waktu ini,
Bangsa Indonesia dan ummat Islam khususnya, sedang mendapat ujian dari Allah berupa
bencana yang datang silih berganti. Sehingga dengan disyari’atkannya menyembelih hewan
pada hari raya ini, sesama muslim dapat saling berbagi, saling membantu dan saling
merasakan kebahagiaan di hari-hari yang penuh berkah ini.
Ketiga
: Ibadah kurban dengan menyembelih hewan ternak sebagaimana dimulai pada jaman
Nabi Ibrahim, adalah bertujuan mengangkat derajat dan martabat umat manusia, yaitu
dengan tidak menjadikannya sebagai sesuatu yang dikorbankan untuk kepentingan sesama
manusia. Pada jaman dulu, hampir semua peradaban mengenal yang namanya pengorbanan
manusia. Alasannya bermacam-macam, dari untuk mendatangkan rejeki, menolak bencana
atau bahkan untuk sekedar persembahan kepada dewa-dewa. Mereka mengorbankan dan
membunuh anak perempuan atau anak laki-laki terbaik mereka dengan harapan para dewa
memberikan kebaikan dan menghindarkan bencana dari mereka. Dengan syari’at kurban
Allah menegaskan jika umat beriman ingin mendekatkan diri kepada Allah, maka cukuplah
6
hal itu dilakukan dengan cara menyembelih binatang ternak sesuai syari'at yang dituntunkan
Rasulullah, yang disertai niat tulus dan ikhlas mengharapkan ridha Allah SWT.
ولله الحمد
x الله أآبر 3
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia
Demikian khutbah Idul Adha kita kali ini, Akhirnya marilah kita berdo’a kepada Allah SWT,
semoga Allah menerima amal ibadah kita, terutama rangkaian ibadah di bulan dzulhijjah ini,
mengampuni segala dosa kita. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang yang
bertaqwa serta mencatat kita sebagai calon-calon penghuni surga. Marilah kita juga berdo’a
semoga hasil baik yang kita petik dari ibadah puasa arafah, shalat ied dan kurban yang kita
lakukan diterima di sisi Allah, amin yaaa Rabbal ‘alamin.
ميع �� ك س �� وات ان �� أللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأم
ى �� ا الت �� قریب مجيب الدعوات
. أللهم أصلح لنا دیننا الذى هو عصمة أمرنا، وأصلح لنا دنيان
ر، �� ل خي �� ى آ �� ا ف �� ادة لن �� اة زی �� ل الحي �� ا، واجع �� ا معادن �� ى إليه �� ا الت �� فيها معاشنا، وأصلح لنا أخرتن
واجعل الموت راحة لنا من آل شر
ا �� رْ لَنَ �� رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَآَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَا رِ
. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِ
ةً �� دُنْكَ رَحْمَ �� نْ لَ �� ا مِ �� بْ لَنَ �� وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِی نَ
. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَیْتَنَا وَهَ
إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
. رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار
ك رب �� بحان رب �� ربنا تقبل منا انك أنت السميع العليم وتب علين ا انك أنت التواب الرحيم وس
يكم �� سلام عل �� ين و ال �� ا لم �� د لله رب الع �� لين والحم �� ى المرس �� لام عل �� صفون وس �� ا ی �� زة عم �� الع
ورحمة الله وبرآاته

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar